LANGIT MENUNGGU HUJAN, SMAN 1 KALIANDA MENENGADAH: SALAT ISTISQA JADI SERUAN DI TENGAH KEKERINGAN

oleh -27 Dilihat
banner 468x60

 

 

banner 336x280

Ratusan siswa dan keluarga besar SMAN 1 Kalianda berkumpul, memanjatkan doa agar hujan segera turun—membasahi bumi tanpa membawa bencana

 

KALIANDA — Ketika langit belum juga menurunkan hujan, manusia hanya bisa menengadah dan memohon. Suasana penuh kekhidmatan itu terasa di lingkungan SMAN 1 Kalianda, Jumat, 11 September 2026, saat keluarga besar sekolah menggelar Salat Istisqa bersama.

 

Bukan sekadar kegiatan keagamaan. Di tengah kondisi alam yang membutuhkan air, Salat Istisqa menjadi simbol kepasrahan sekaligus ikhtiar spiritual. Ratusan siswa bersama jajaran pendidik dan keluarga besar sekolah mengikuti rangkaian kegiatan dengan tertib dan penuh kekhusyukan.

 

Barisan siswa memenuhi halaman sekolah. Mereka duduk dan berdiri dalam suasana hening, meninggalkan sejenak aktivitas pembelajaran untuk bersama-sama memanjatkan doa.

 

Doa yang dipanjatkan pun begitu kuat maknanya: memohon hujan yang menolong, menyuburkan, bermanfaat dan tidak membahayakan.

 

> “Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang menolong, menyuburkan, bermanfaat dan tidak membahayakan, yang segera dan tidak ditunda.”

 

 

 

Kalimat tersebut menjadi inti harapan yang menggema dari lingkungan SMAN 1 Kalianda. Sebuah doa sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang jauh lebih besar: kebutuhan manusia terhadap air dan keseimbangan alam.

 

Bukan Sekadar Ritual

 

Kegiatan Salat Istisqa juga menjadi ruang pendidikan karakter bagi para peserta didik. Para siswa tidak hanya diajak memahami nilai ibadah, tetapi juga belajar tentang pentingnya kesadaran, kepedulian dan hubungan manusia dengan lingkungan.

 

Di tengah perubahan kondisi cuaca yang sulit diprediksi, air bukan sekadar kebutuhan sehari-hari. Air menyangkut kehidupan, pertanian, kesehatan, kebersihan hingga keberlangsungan ekosistem.

 

Karena itu, momentum Salat Istisqa di lingkungan sekolah menjadi pesan bahwa pendidikan tidak berhenti di dalam ruang kelas.

 

Ada pelajaran yang disampaikan melalui langit, tanah dan doa.

 

Keluarga besar SMAN 1 Kalianda menunjukkan bahwa ketika hujan belum kunjung datang, manusia tetap memiliki ruang untuk berikhtiar—secara lahir maupun batin.

 

Salat Istisqa akhirnya bukan hanya tentang menunggu hujan.

 

Ia adalah pengingat bahwa manusia membutuhkan alam, sementara alam membutuhkan kepedulian manusia.

 

Dari halaman SMAN 1 Kalianda, doa pun dipanjatkan. Semoga langit segera membuka pintunya, hujan turun membawa keberkahan, menyuburkan bumi dan tidak menjadi bencana bagi kehidupan.

 

Kini, tinggal menunggu: kapan tetes pertama hujan menjawab doa yang telah dipanjatkan?

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.